Li Claudia Cuma Bercanda

Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, mengancam takakan menyalurkan bantuan bagi warga Rempang karena terganggu oleh spanduk protes. Ia menyebut pernyataan itu cuma bercanda. Namun, menurut WALHI, gaya komunikasinya mirip Prabowo Subianto: intimidatif dan sembrono.

“Oke, kalau gitu Pak Wali,” kata Li Claudia Chandra. “Program sekolah untuk anak SD dan SMP nggak perlu sampai sini. Insentif untuk lansia juga tidak usah,”

Permintaan bernada perintah itu ditujukan kepada atasannya, Amsakar Achmad, Wali Kota Batam merangkap Kepala BP Batam. Sebagai Wakil Wali Kota, Li Claudia menyampaikan pernyataan tersebut karena terganggu oleh spanduk protes warga Rempang saat menyambut Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara di Kampung Pasir Merah, Kecamatan Galang, Kota Batam, 29 Maret 2025.

Warga tidak takut dengan ancaman Li Claudia. Forum di depan perpustakaan kampung itu makin riuh. “Yang penting jangan digusur!” teriak mereka. Seorang warga lain menambahkan, “Dua tahun kami begini [takut digusur], itu karena Pemerintah Kota Batam.”

Ironisnya, kunjungan hari itu sejatinya dimaksudkan untuk membangun dialog. Menteri Iftitah datang ke Rempang untuk memperkenalkan program transmigrasi lokal. Tapi sejak tiba, Li Claudia sudah beberapa kali terlihat mengomeli warga yang berdiri berbaris dari pintu masuk hingga ke tengah kampung, membawa spanduk penolakan terhadap proyek Rempang Eco City.

Dalam forum yang dihadiri puluhan warga itu, Li Claudia sempat mencoba meredakan ketegangan. Ia menjelaskan bahwa tidak semua pejabat datang untuk menggusur. Ia dan atasannya, kata dia, hadir untuk bersilaturahmi dan mengucapkan terima kasih karena warga telah memilih pasangan Amsakar–Li Claudia dalam pemilihan kepala daerah sebelumnya.

Namun, alih-alih menanggapi substansi penolakan, Li Claudia justru membawa persoalan ke ranah yang lebih pribadi. Ia mengeluhkan bahwa anaknya tidak berani masuk ke lokasi acara karena takut dengan spanduk. “Sebenarnya anak Bu Li pun mau ikut,” katanya. “Tapi emak-emak pegang spanduk begini: ‘Kami nggak mau relokasi, kami nggak transmigrasi.’ Anak Bu Li ketakutan, nggak berani masuk.”

Anak yang dimaksud adalah Maria Teresa Suhardja, putri Li Claudia yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tangerang Selatan.

Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra (berbaju putih) bersama warga Rempang. Foto: Putra Gema Pamungkas.

Jika melihat dari sisi elektoral, sebenarnya tidak ada alasan bagi Li Claudia merasa terancam. Dalam Pilkada 2024, pasangan Amsakar dan Li Claudia menang telak di Rempang. Mereka meraih 12.326 suara di Kecamatan Galang dan Bulang, sementara lawan politiknya hanya mendapat sekitar dua ribu suara.

Namun, kuatnya dukungan politik itu rupanya tak menjamin suasana tetap kondusif. Yang menarik, justru protes datang dari orang-orang yang sebelumnya berada di barisan pendukung mereka. Miswadi, warga Sembulang Hulu yang pernah menjadi ketua relawan pasangan ini, menyampaikan kekecewaannya langsung kepada Li Claudia. “Akui identitas kami dulu, baru bicara,” katanya dari tengah kerumunan. Warga lain ikut menyahut, “Kami cuma dibutuhkan waktu pilkada.”

Li Claudia mencoba menanggapi. Ia mengatakan bahwa mereka baru bekerja sepuluh hari dan tidak mungkin datang jika berniat jahat. “Tidak mungkin kami berani ke sini kalau ada niat jahat mau gusur Bapak dan Ibu,” katanya. Ia kemudian mengutip ucapan Menteri Iftitah yang menyebut relokasi bersifat sukarela. “Tadi kata Pak Menteri, transmigrasi itu bagi yang mau. Kalau emak-emak rasa tidak mau, ya sudah tidak apa-apa. Tetapi tidak usah teriak-teriak. Malu, Mak.”

Intimidatif dan Sembrono

Setelah acara selesai, Malaka sempat meminta tanggapan Amsakar Achmad, atas gaya komunikasi wakilnya itu. Amsakar bilang, “Boleh tidak soal yang itu [pernyataan Li Claudia] saya tidak usah komentar,” katanya singkat. Ia hanya menambahkan bahwa pernyataan Li Claudia tadi hanyalah bercanda dan takperlu dibesar-besarkan.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah juga kami minta menanggapi pernyataan Li Claudia. Ia mengatakan bahwa setiap orang punya cara masing-masing dalam berkomunikasi. “Kadang kan begini, ada yang bisa dengan kata-kata, ada yang memang dengan cara seperti itu [mengancam], yang penting jangan tersakiti,” katanya kepada Malaka.

Menurut Iftitah, gaya bicara seperti itu adalah hal yang biasa. “Yang penting mereka nggak ngangkat parang, gitu aja udah,” katanya sambil tertawa. Pernyataan itu justru kontras dengan pengakuannya sendiri dalam wawancara yang sama. Ia menyebut salah satu penyebab utama konflik Rempang adalah buruknya komunikasi sejak awal.  “Tetapi kita tidak bisa balik lagi [membahas kesalahan masa lalu],” katanya.

Berbaris rapi, perempuan dan anak-anak Rempang mengangkat spanduk protes demi mempertahankan kampung mereka. Foto: Putra Gema Pamungkas

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau, Boy Jerry Even Sembiring, menilai gaya komunikasi Li Claudia bermasalah. Ia menyebut bahwa ucapan bernada ancaman, meskipun dibungkus dengan candaan, tetap bisa dianggap sebagai bentuk tekanan. “Itu bukan sekadar gaya bicara. Itu adalah cara negara menunjukkan kuasanya,” kata Boy.

Ia juga mengingatkan bahwa bantuan seperti pendidikan dan pelatihan bukanlah hadiah, melainkan kewajiban negara kepada warganya. “Ancaman penghentian bantuan karena warga menolak relokasi itu bentuk intimidasi. Padahal spanduk yang mereka angkat adalah ekspresi politik yang sah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Boy menyebut bahwa pernyataan Li Claudia terlalu personal dan mengabaikan dampak psikologis terhadap warga. “Seharusnya ia mengajarkan anaknya sejak dini tentang demokrasi dan kebebasan berpendapat. Apakah ia menyadari bahwa trauma yang dialami warga akibat intimidasi dan tindakan represif sejak Juli 2023 jauh lebih berat?” katanya.

Ia bahkan membandingkan gaya komunikasi Li Claudia dengan Prabowo Subianto. “Cara bicaranya mirip Prabowo: intimidatif dan sembrono,” katanya.

Li Claudia: I Love You

Usai bertemu warga di Kampung Pasir Merah, Malaka mencoba mewawancarai Li Claudia di kawasan Jembatan Rempang–Setokok. Seorang deputi BP Batam sempat menghalangi dengan alasan Li Claudia sedang buru-buru ingin melanjutkan perjalanan. Namun, setelah dijelaskan bahwa pernyataan atasannya itu bisa menjadi kontroversi jika tidak diklarifikasi, Li Claudia akhirnya bersedia memberi keterangan.

Dalam wawancara singkat itu, Li Claudia berkata, “Untuk warga Rempang yang saya cintai, khususnya emak-emak dan anak-anak saya, tadi saya hanya bercanda, ya. Program tetap jalan, loh, untuk kalian. I love you.”

Editor: Bintang Antonio

Malaka tidak bergantung pada iklan penguasa; tak mau tunduk pada titah pengusaha. Kami hanya melayani satu kepentingan: publik. Karena itu, bila Anda merasa cerita-cerita seperti ini penting; bantu kami menjaga nyalanya tetap hidup.