Pengantar Redaksi

Media seharusnya menjadi jembatan, tetapi yang berkualitas di negeri ini bisa dihitung dengan jari. Dari yang sedikit itu, mereka harus mengawasi 38 provinsi; 93 kota otonom; lima kota administrasi; 7.266 kecamatan; 8.506 kelurahan; dan 74.961 desa, yang dihuni oleh 284,44 juta jiwa. Tugas itu suci, sekaligus hampir mustahil.

Kita semua tahu bahwa laporan-laporan panjang dari Tempo (majalah, bukan dotco) atau Majalah Pantau (kini sudah tiada) adalah segelintir media yang layak dibaca. Di luar, kita bisa membaca The New Yorker atau The Intercept. Media-media kelas dunia itu tahu cara membongkar korupsi, menulis ketidakadilan, dan mengguncang tatanan kekuasaan dengan satu laporan. Kami menghormati dan mengakuinya.

Namun, ada satu masalah: mereka terlalu jauh dari Batam.

Liputan mereka luas, terlalu luas. Mereka bicara soal negara ini, dunia ini, dengan jumlah wartawan yang terbatas. Satu kontributor untuk satu provinsi? Itu sama seperti meminta seorang dokter merawat seluruh penduduk yang sakit sekaligus. Banyak masalah di kota ini yang tidak memenuhi standar tragedi nasional dibiarkan menunggu, memburuk, hingga menjadi kanker yang tak terobati. Inilah yang kami sebut “krisis kedekatan”.

Kita takbisa terus berharap pada media Jakarta yang baru datang ketika penderitaan sudah berbentuk visual: air mata, darah, reruntuhan.

Masalahnya bukan sekadar jarak, tetapi juga standar jurnalisme lokal yang memalukan. Batam punya ratusan, bahkan ribuan media yang mengaku menjalankan kerja-kerja peliputan. Namun, mari jujur, apakah kota ini punya standar emas dalam pelaporan jurnalistik?

Sejauh ini belum, tetapi mulai hari ini standar itu bernama Malaka.

Logo Malaka. Editor visual: Aditya Damora.

Malaka tidak bergantung pada iklan penguasa; tak mau tunduk pada titah pengusaha. Kami hanya melayani satu kepentingan: publik. Karena itu, bila Anda merasa cerita-cerita seperti ini penting; bantu kami menjaga nyalanya tetap hidup.